LIBURAN : Jalan - Jalan ke Singaraja Yuk
Libur sekolah telah tiba! Yap…!! Inilah waktunya buat kita untuk bersenang-senang. Tetapi tak usah pusing atau bingung
jika jalan-jalan mengisi liburan, apalagi jika kondisi keuangan sedang seret. Jangan selalu terpaku dengan liburan yang menguras kocek.
Agar tak perlu mengeluarkan dana ekstra, banyak cara yang bisa dilakukan
demi mengisi liburan panjang ini dengan ongkos murah dan edukatif buat
si anak. Tidak ada salahnya liburan kali ini diisi dengan hal yang
bermanfaat dan bisa sambil belajar. Contohnya dengan mengunjungi
museum-museum atau taman-taman publik di sekitar kota Singaraja.
Liburan yang murah meriah dengan mengunjungi museum dan taman publik
seperti yang telah disebutkan di atas termasuk ke dalam liburan yang
edukatif. Di Singaraja misalnya, banyak terdapat museum yang menyimpan
benda-benda bersejarah dari perjuangan sampai ragam kebudayaan yang ada di Singaraja.
Jika selama ini kita hanya mempelajarinya dalam pelajaran sejarah saja,
tidak ada salahnya mengajaknya mengunjungi museum tersebut untuk
mengetahui lebih banyak informasi.
Berikut ini ada beberapa tempat bersejarah yang mesti di kunjungi di singaraja untuk mengisi liburan
1. Lontar museum and library Gedong Kirtya, Singaraja, North Bali
The Gedong Kirtya is located in the former colonial capital of Bali, Singaraja. This
library annex museum collects, copies and preserves thousands of lontar
(palm leaf manuscripts), "prasati" (transcriptions on metal plates) and
books which deal with various aspects of human life, such as religion,
architecture, philosophy, genealogy, homeopathy, "usada" (medical
manuscripts), black magic, and so on, in the Balinese, Kawi (old
Javanese) and the Dutch, English and German language.
The
Gedong Kirtya was established on June 2nd, 1928 by Resident I.J.J.
Calon, who was a government official in Bali and Lombok during the Dutch
colonial aera.
The
word 'lontar' is composed of two Old Javanese words, namely 'ron'
(leaf) and 'tal' (rontal tree). The word 'rontal' therefore means 'leaf
of the rontal tree'.
The
leaves of the rontal tree have always been used for many purposes, such
as for the making of plaited mats, palm sugar wrappers, water scoops,
orrnaments, ritual tools, and writing material.
Museum ini bermula dari sebuah yayasan yang diberi nama "Kirtya Lefrink - Van der Tuuk"
yang bertugas untuk menjaga kesenian sastra tersebut. F.A Lefrink yang
merupakan Asistan Resident pemerintah Belanda di Bali pada waktu itu
sangat tertarik dengan Kebudayaan Bali dan banyak tulisan yang dibuat
mengenai Bali dan Lombok. Dr. H.N Van der Tuuk, seorang sejarahwan yang
memberikan tanah dan bangunannya untuk digunakan sebagai museum yang
sekarang dikenal sebagai Museum Gedong Kirtya. Gedung ini terletak di
kompleks Sasana Budaya, yang merupakan istana tua kerajaan Buleleng
tepatnya Jalan Veteran, Singaraja. Pada masa itu, Singaraja merupakan
ibukota Sunda Kecil.
2. Tugu Tiga / Tugu Pahlawan
Letaknya di Jln. Singaraja menuju Git-git d Desa Sangket Sukasada
3. Pelabuhan Buleleng

Terletak disebelah pesisir utara Kota Singaraja. Dijaman dulu ketika Singaraja sebagai ibu kota dari Nusa Tenggara adalah merupakan pusat pelayaran yang penting. Keputusan memindahkan Ibu Kota Propinsi Bali dari Bali Utara ke Bali Selatan adalah berdasarkan dibaginya Nusa Tenggara menjadi 3 propinsi, membuat Pelabuhan Bulel eng menjadi kurang berfungsi. Kemerosotan pelabuhan buleleng mencapai puncaknya ketika pembangunan Pelabuhan Celukan Bawang ± 40 km arah Barat Singaraja.
Namun sejak Tahun 2005 bekas Pelabuhan Buleleng ini telah ditata oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Buleleng dengan penataan taman serta bekas dermaga kayu yang sudah usang diperbaharui dilengkapi dengan sarana restauran terapung.
4. Benteng Jagaraga
Pada tahun 1844 terjadi perampasan terhadap kapal-kapal Belanda di
pantai Prancah (Bali Barat) dan Sangsit (Buleleng bagian Timur). Belanda
menuntut agar kerajaan Buleleng melepaskan hak tawan karangnya sesuai
perjanjian tahun 1843 itu namun ditolak. Kejadian tersebut dijadikan
alasan oleh Belanda untuk menyerang Buleleng.
Bagaimana jalannya
perang Bali? Pantai Buleleng diblokade dan istana raja ditembaki dengan
meriam dari pantai. Satu persatu daerah diduduki dan istana dikepung
oleh Belanda. Raja Buleleng berpura-pura menyerah kemudian perlawanan
dilanjutkan oleh Patih I Gusti Ketut Jelantik.
Perang Buleleng
disebut juga pertempuran Jagaraga karena pusat pertahanannya adalah
benteng di desa Jagaraga. Perang ini disebut pula Perang Puputan
mengapa? Karena perang dijiwai oleh semangat puputan yaitu perang habis-habisan. Bagi masyarakat Bali,
Ada banyak lagi tempat bersejarah di Singaraja ayoo tunggu apa lagi sebelum waktu libur habis. (Prince Wikrama)
kirim ke teman | versi cetak | Versi PDF
Visitors :24912 Org
Hits : 99970 hits
Month : 1318 Users


